Last Say – When A Man Lost A Woman – rewrite n edited by my funky editor

Menghabiskan kebersamaan dengannya sejujurnya memberikan banyak kenangan dalam sudut hati saya saat ini. Walaupun ia tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan ini, namun setelah sekian lama sendiri (hampir 5 tahun), saya kadang tetap mendambakan kembalinya masa-masa itu. Rasa memiliki seseorang disamping saya, rasa cinta, rasa percaya yang selalu menggelitik untuk cemburu bahkan rasa di saat ia terlalu cerewet menanyakan keberadaan saya. Ya, saya merindukannya! Rindu yang membawa saya kembali pada kilatan peristiwa 5 tahun lalu!

Guntur itu seperti terdengar membelah bumi hingga memerosokkan tubuh ini dalam sebuah lubang. Lubang kesedihan dan depresi! Nina (sebut saja begitu) telah membawa saya pada satu titik dimana harga diri saya sebagai pria dan kemampuan saya menggunakan logika hilang begitu saja. Setelah dua tahun kami menjalin hubungan, ternyata saya hanyalah selingkuhannya saja. Saya begitu mencintainya hingga buta pada sebuah realita. Samar dalam ingatan saya bagaimana malam itu saat bibir merahnya mengucapkan kata “Putus!”. Dan bibir merah itu semakin membara saat berkata, “Tunanganku sudah kembali dari Amerika. Kami akan segera menikah!”.
Marah dan diam! Hanya dua ekspresi itu yang mampu saya tunjukkan. Yang saya ingat kemudian hanyalah saya mengantarkannya pulang, mengucapkan selamat malam, dan meninggalkan rumah dengan bunyi decitan ban di jalan. Saya berkendaraan keliling kota, memacu mobil dalam kecepatan 180 km/jam bahkan lebih, hingga akhirnya berhenti di parkiran sebuah pub dan menghabiskan malam itu menegak berbotol-botol beer pahit. Hari-hari berikutnya saya lewati dengan kepulan asap dan berbungkus-bungkus rokok yang hanya menguntungkan produsen tembakau saja. Tidak ada air mata, hanya goresan luka di punggung tangan akibat tinjuan pada cermin kamar mandi. Un control depression! Hidup hanya untuk bekerja…hingga sampai titik dimana saat ini saya berada.

The Expression of Losing Setiap manusia memiliki rasa kehilangan jika ia ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Begitu pula dengan pria, walaupun pria dinilai sosok yang tegar dan penuh logika, namun pria juga memiliki hati dan perasaan. Bagaimana cara pria mengekspresikan rasa kehilangannya sudah pasti berbeda-beda. Entah itu melalui kesedihan atau mungkin kesenangan karena terlepas darinya.

Seperti saya, putus dengan kekasih memang bukan yang pertama saya alami. Sebelum berpacaran dengan Nina saya sudah menjalin lebih dari 3 kali hubungan. Saat harus mengakhiri hubungan itu jujur saya merasa sedih, tapi dengan berada diantara teman-teman biasanya rasa sedih itu perlahan-lahan hilang. Namun dengan Nina-lah, saya mulai menentukan arah hidup yang lebih serius. Tapi, harapan saya tidak sesuai kenyataan. Sebagai pria, saya kecewa dengan keputusan yang Nina buat. Rasa kecewa yang kemudian tidak terlontarkan dengan kata-kata itu justru termanifestasi dalam langkah saya kemudian yang mmenyalurkan energi sakit hati itu dengan bekerja.
Berbeda dengan pengalaman seorang teman, saat kekasihnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, ia malah merasa senang. Malam itu juga saat kekasihnya meninggalkannya, teman saya justru mengundang saya makan untuk mereyakan kebebasannya kembali. Komentarnya yang paling saya ingat saat itu adalah ia akan mencari wanita lain secepatnya. Hmm…mungkin itulah cara yang bisa ia lakukan untuk menutupi rasa kehilangannya.

Saya jadi ingat dengan tayangan infotainment yang sempat saya tonton saat sedang menunggu di ruang tunggu dokter beberapa minggu lalu. Tayangan itu menceritakan tentang seorang bintang pria yang melontarkan ekspresi kemarahannya di depan mike dan kamera dengan menggebu-gebu saat ia baru saja putus dari kekasihnya. Komentar yang menghujat mantan kekasihnya. Ia tidak peduli dengan komentar yang mungkin akan timbul dari para fans-nya. Ia bahkan tidak peduli dengan kilasan kemesraan mereka yang sempat tertangkap kamera dan ditayangkan kembali. Inilah cara ia mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya. Walaupun terdengar kasar, tapi itu adalah haknya!

Life is Beautiful.
Seperti macam rasa, ada manis, asin, pahit, pedas, dan rasa-rasa lain yang wah, mak nyus-lah pastinya. Begitu pula dengan cinta! Ada banyak rasa saat memiliki cinta dan ada banyak rasa saat kehilangan cinta. Meskipun enggan rasanya untuk membuka kembali lembar rasa kehilangan yang berusaha saya kubur dalam-dalam, tapi saya tetap tertarik untuk flash back apa yang saya rasakan saat kehilangan seorang wanita.

Apa yang pria rasakan ketika kehilangan seorang wanita? Saat pria memutuskan hubungan dengan wanita? Sedih, senang, lega, kaget, bingung, marah, atau hampa? Sepertinya, semua itulah yang saya rasakan, bagaikan perasaan aneh dalam hati, yang saya akui lebih ajaib daripada saat memulai hubungan dengan seseorang. Sedih karena harus berpisah dengan wanita yang selama ini telah menemani hari dengan suka cita. Senang (yang mungkin semu) karena akhirnya mendapat jalan untuk dapat berhubungan dengan wanita lain yang “lebih” dari pasangan. Lega setelah dapat lepas dari rasa terkekang dalam hubungan. Kaget karena keputusan yang tidak disangka-sangka datang tanpa ada asal usulnya. Bingung karena tidak mengetahui apa kesalahan yang telah diperbuat hingga memutuskan hubungan. Marah karena tidak dapat menerima kenyataan tidak bersama lagi. Hampa karena sebagian dari diri yang hilang. Masih banyak lagi rasa yang tidak tergambarkan dengan gamblang karena lebih banyak rasa yang tidak dapat diungkap dengan kata-kata dunia dan hanya hati yang mengerti. ‘Kehilangan memang tidak selamanya indah. Tetapi kehilangan bukan berarti akhir dari segalanya’, kalimat yang saya coba pahami namun sulit dimengerti. Mengapa harus miliki apabila akhirnya harus dilepaskan.

Mungkin wanita menganggap bila pria lebih mudah menghapus perasaan dan melupakan masa lalu. Mayoritas pria lebih mengutamakan rasional daripada hati. Itu kenyataan! Tapi tidak selamanya benar. Saat pria berada di antara teman atau orang lain, ia berusaha untuk mengesampingkan semua hal yang tidak seharusnya tampak – menurut mereka. Namun saat sendiri, tidak jarang hal sensitif yang selama ini ditenggelamkan justru muncul kepermukaan. Inilah saat pribadi pria! Pria cenderung menelaah segala hal yang disembunyikan dan memikirkan cara bagaimana menyiasatinya. Pria bisa sakit hati dan sensitif. Namun mungkin kami, para pria, menganggap perasaan dari hati sebagai salah satu sumber energi menjalani hidup dengan rasionalisasi otak sebagai pengatur energi tersebut. Tanpa hati, kami pun mati!

3 Responses to “Last Say – When A Man Lost A Woman – rewrite n edited by my funky editor”

  1. woelank Says:

    @amartia
    hmmm…
    kl gw udah nyakitin yah…
    biasanya gw tau kalo apa yg gw lakuin itu nyakitin, tapi sebelumnya orang yang tersakiti itu juga sudah tahu kalo hal itu yang akan dia dapat kalau diteruskan.
    So if someone doesn’t want to be hurt by me, just don’t step across the line where I’m gonna hurt that beautiful heart of yours.

    I… Do have a heart.
    but my heart is in the gray zone, it was neutral until someone touch it.. deeply.. otherwise, it will still gray.
    If a girl felt something more than I do, I’ll treat her as good as its gets so she’ll comfortable, but don’t get me wrong, because my heart still gray.

    btw…
    do I ever hurt you amartia?
    [curious]

  2. woelank Says:

    @noklia
    iya….
    soalnya ga ketemu muka, kl tatap2an mungkin malah nyengir2 gw…

  3. mim Says:

    hhmm…gitu toh cowok…kalo ttg sakit ky gitu sih been there…n sakitnya masih brasa sampe sekarang..apalg kalo inget baru putus 1 bulan tuh cowok dah cari pengganti…berusaha gak larut dalam kesedihan??? yeah right..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: