jakarta, may 13, 1998

membaca postingannya ndoro tentang kenangan 10 tahun yang lalu, saya jadi flash back ke masa suram itu…

miris rasanya mengingat ingat hari kelam bagi jakarta itu, disaat kesadaran hilang, entah apa saja yang ada dipikiran sebagian “penduduk” jakarta ketika itu.

perkosa, bakar, bunuh, jarah……

beginikah cara mereka memandang orang yang “beda” dengan mereka? atau hanya ikut2an?

masih teringat di otak ketika sekumpulan anak muda tertawa sekembalinya dari “pesta” kemeriahan jakarta 13 mei 1998, bersenda gurau akan enaknya menodai wanita ini wanita itu, membakar gedung ini gedung itu, membawa uang segepok hasil bongkaran ATM….
lalu keesokan harinya sebagian dari mereka menjadi gila, ketika tahu kerabat sendiri ikut terbakar, adik dan ibu mereka ikut ternodai, terbunuh oleh orang2 yang sama “iseng”nya dengan mereka.

tertawa melihat bapak2 tua menggotong sendiri sebuah kulkas baru ke rumah yang ternyata tdk bisa dipakai karena tidak cukup daya, dan kemudian harus urut2 karena keseleo sewaktu membawa kulkas.

ngiri liat anak kecil seumuran anak sd membawa kantong kresek penuh dengan lembaran uang 20 ribuan baru.

terperangah melihat setiap wanita tiba2 menjadi muslimah yang baik, menggunakan jilbab, kerudung bahkan cadar. desakan hati atau keterpaksaan takut di”apa2″in?

saat dimana jaket almamater tidak pernah alpa untuk dibawa dan tidak teronggok lusuh dipojokan kamar.

saat dimana melihat sekawanan orang lari pontang panting menghindari terjangan mobil2, truk, bis, yang melesat kencang di jalan tol mencoba menghindari jakarta.
lebih baik tabrak itu orang, daripada berhenti, kendaraan dibakar, pria mati, wanita dinodai…..

saat dimana bisa mempunyai mobil, rumah mewah beserta isinya hanya dengan harga beberapa tiket ke singapura (yang mungkin pada saat dilihat rumah dan mobil itu sudah terbakar ludes)..

saat dimana mendengar teman naik ojek dari buaran ke atmajaya gratis, dapet minum lagi…

kadang heran bila melihat para mahasiswa sekarang turun ke jalan memperingati hari kelam ini, apa yang mereka rasakan saat itu?
kengerian yang sama?
kemalangan yang sama?
atau
terlelap dalam pelukan orang tua?
tertawa riang melihat keramaian dan berharap dapat secuil dari apa yang diperebutkan?

bagaimana mereka dapat bersuara lantang bila tidak pernah merasakan?
taukah mereka bahwa ada sebagian elemen “mahasiswa” (ngaku mahasiswa tetapi kok sebagian berpenampilan dan bertingkahlaku bagaikan preman tikungan) yang meminta paksa ke sebagian kampus yang mereka lalui dengan dalih bekal meruntuhkan orde baru.

taukah mereka apa yang terjadi pada saat pendudukan gedung DPR?
berapa banyak perlatan/perabotan yang rusak/hilang karena ulah rekan2, kamar mandi yang bagaikan wc umum yg tak pernah dibersihkan, semak2 belukar sekitar gedung yang sering bergoyang padahal tak ada angin, makanan berserakan dimana2 padahal disentuhpun tidak…

cukuplah bergembira diatap gedung mpr yang betonannya retak2 itu, berciprat2an air di kolam dengan orang yang tidak dikenal, potong kue pada saat pak harto turun….

ah… saya bukan seorang aktivis, hanya orang yang suka ikut2an. sekali seumur hidup bukan…

*bila ada yang tdk berkenan akan tulisan ini dan merasa tidak akurat, bisa kontek saya di imel. sayapun mungkin punya kelemahan dalam megingat kejadian waktu itu..
namun saya tidak mentoleransi rasisme disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: