The New 7 Wonders of Nature

Alkisah terdapat 7 lokasi terindah dan terunik di dunia yang di nominasikan dan divoting melalui ranah maya.
Apa bila sebelumnya terdapat keajaiban dunia yang dibuat oleh tangan makhluk dengan ras terran (homo sapiens), maka keajaiban dunia yang akan dipilih sekarang adalah keajaiban yang terjadi karena alam..
ya ALAM (bukan penyanyi dangdut lho).

Sampai detik ini sudah terkumpul 77 daftar tempat terajaib di situs pemilihan
Read the rest of this entry »

Bloggers Unite – May 15th 2008

Posted in article. Tags: , , . Comments Off on Bloggers Unite – May 15th 2008

Last Say – When A Man Lost A Woman – rewrite n edited by my funky editor

Menghabiskan kebersamaan dengannya sejujurnya memberikan banyak kenangan dalam sudut hati saya saat ini. Walaupun ia tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan ini, namun setelah sekian lama sendiri (hampir 5 tahun), saya kadang tetap mendambakan kembalinya masa-masa itu. Rasa memiliki seseorang disamping saya, rasa cinta, rasa percaya yang selalu menggelitik untuk cemburu bahkan rasa di saat ia terlalu cerewet menanyakan keberadaan saya. Ya, saya merindukannya! Rindu yang membawa saya kembali pada kilatan peristiwa 5 tahun lalu!

Guntur itu seperti terdengar membelah bumi hingga memerosokkan tubuh ini dalam sebuah lubang. Lubang kesedihan dan depresi! Nina (sebut saja begitu) telah membawa saya pada satu titik dimana harga diri saya sebagai pria dan kemampuan saya menggunakan logika hilang begitu saja. Setelah dua tahun kami menjalin hubungan, ternyata saya hanyalah selingkuhannya saja. Saya begitu mencintainya hingga buta pada sebuah realita. Samar dalam ingatan saya bagaimana malam itu saat bibir merahnya mengucapkan kata “Putus!”. Dan bibir merah itu semakin membara saat berkata, “Tunanganku sudah kembali dari Amerika. Kami akan segera menikah!”.
Marah dan diam! Hanya dua ekspresi itu yang mampu saya tunjukkan. Yang saya ingat kemudian hanyalah saya mengantarkannya pulang, mengucapkan selamat malam, dan meninggalkan rumah dengan bunyi decitan ban di jalan. Saya berkendaraan keliling kota, memacu mobil dalam kecepatan 180 km/jam bahkan lebih, hingga akhirnya berhenti di parkiran sebuah pub dan menghabiskan malam itu menegak berbotol-botol beer pahit. Hari-hari berikutnya saya lewati dengan kepulan asap dan berbungkus-bungkus rokok yang hanya menguntungkan produsen tembakau saja. Tidak ada air mata, hanya goresan luka di punggung tangan akibat tinjuan pada cermin kamar mandi. Un control depression! Hidup hanya untuk bekerja…hingga sampai titik dimana saat ini saya berada.

The Expression of Losing Setiap manusia memiliki rasa kehilangan jika ia ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Begitu pula dengan pria, walaupun pria dinilai sosok yang tegar dan penuh logika, namun pria juga memiliki hati dan perasaan. Bagaimana cara pria mengekspresikan rasa kehilangannya sudah pasti berbeda-beda. Entah itu melalui kesedihan atau mungkin kesenangan karena terlepas darinya.

Seperti saya, putus dengan kekasih memang bukan yang pertama saya alami. Sebelum berpacaran dengan Nina saya sudah menjalin lebih dari 3 kali hubungan. Saat harus mengakhiri hubungan itu jujur saya merasa sedih, tapi dengan berada diantara teman-teman biasanya rasa sedih itu perlahan-lahan hilang. Namun dengan Nina-lah, saya mulai menentukan arah hidup yang lebih serius. Tapi, harapan saya tidak sesuai kenyataan. Sebagai pria, saya kecewa dengan keputusan yang Nina buat. Rasa kecewa yang kemudian tidak terlontarkan dengan kata-kata itu justru termanifestasi dalam langkah saya kemudian yang mmenyalurkan energi sakit hati itu dengan bekerja.
Berbeda dengan pengalaman seorang teman, saat kekasihnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, ia malah merasa senang. Malam itu juga saat kekasihnya meninggalkannya, teman saya justru mengundang saya makan untuk mereyakan kebebasannya kembali. Komentarnya yang paling saya ingat saat itu adalah ia akan mencari wanita lain secepatnya. Hmm…mungkin itulah cara yang bisa ia lakukan untuk menutupi rasa kehilangannya.

Saya jadi ingat dengan tayangan infotainment yang sempat saya tonton saat sedang menunggu di ruang tunggu dokter beberapa minggu lalu. Tayangan itu menceritakan tentang seorang bintang pria yang melontarkan ekspresi kemarahannya di depan mike dan kamera dengan menggebu-gebu saat ia baru saja putus dari kekasihnya. Komentar yang menghujat mantan kekasihnya. Ia tidak peduli dengan komentar yang mungkin akan timbul dari para fans-nya. Ia bahkan tidak peduli dengan kilasan kemesraan mereka yang sempat tertangkap kamera dan ditayangkan kembali. Inilah cara ia mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya. Walaupun terdengar kasar, tapi itu adalah haknya!

Life is Beautiful.
Seperti macam rasa, ada manis, asin, pahit, pedas, dan rasa-rasa lain yang wah, mak nyus-lah pastinya. Begitu pula dengan cinta! Ada banyak rasa saat memiliki cinta dan ada banyak rasa saat kehilangan cinta. Meskipun enggan rasanya untuk membuka kembali lembar rasa kehilangan yang berusaha saya kubur dalam-dalam, tapi saya tetap tertarik untuk flash back apa yang saya rasakan saat kehilangan seorang wanita.

Apa yang pria rasakan ketika kehilangan seorang wanita? Saat pria memutuskan hubungan dengan wanita? Sedih, senang, lega, kaget, bingung, marah, atau hampa? Sepertinya, semua itulah yang saya rasakan, bagaikan perasaan aneh dalam hati, yang saya akui lebih ajaib daripada saat memulai hubungan dengan seseorang. Sedih karena harus berpisah dengan wanita yang selama ini telah menemani hari dengan suka cita. Senang (yang mungkin semu) karena akhirnya mendapat jalan untuk dapat berhubungan dengan wanita lain yang “lebih” dari pasangan. Lega setelah dapat lepas dari rasa terkekang dalam hubungan. Kaget karena keputusan yang tidak disangka-sangka datang tanpa ada asal usulnya. Bingung karena tidak mengetahui apa kesalahan yang telah diperbuat hingga memutuskan hubungan. Marah karena tidak dapat menerima kenyataan tidak bersama lagi. Hampa karena sebagian dari diri yang hilang. Masih banyak lagi rasa yang tidak tergambarkan dengan gamblang karena lebih banyak rasa yang tidak dapat diungkap dengan kata-kata dunia dan hanya hati yang mengerti. ‘Kehilangan memang tidak selamanya indah. Tetapi kehilangan bukan berarti akhir dari segalanya’, kalimat yang saya coba pahami namun sulit dimengerti. Mengapa harus miliki apabila akhirnya harus dilepaskan.

Mungkin wanita menganggap bila pria lebih mudah menghapus perasaan dan melupakan masa lalu. Mayoritas pria lebih mengutamakan rasional daripada hati. Itu kenyataan! Tapi tidak selamanya benar. Saat pria berada di antara teman atau orang lain, ia berusaha untuk mengesampingkan semua hal yang tidak seharusnya tampak – menurut mereka. Namun saat sendiri, tidak jarang hal sensitif yang selama ini ditenggelamkan justru muncul kepermukaan. Inilah saat pribadi pria! Pria cenderung menelaah segala hal yang disembunyikan dan memikirkan cara bagaimana menyiasatinya. Pria bisa sakit hati dan sensitif. Namun mungkin kami, para pria, menganggap perasaan dari hati sebagai salah satu sumber energi menjalani hidup dengan rasionalisasi otak sebagai pengatur energi tersebut. Tanpa hati, kami pun mati!

When a man lost a woman (unedited)

When a man lost a woman

Setelah sekian lama sendiri saya mulai mendambakan rasa-rasa yang pernah dirasakan waktu mempunyai pasangan. Saat-saat dimana kita saling menyayangi, membagi, percaya satu sama lain dan yang pasti saat-saat waktu … (sebatas mana bayangkan sendiri).
Kangen juga perasaan saat ada yang memperhatikan segala tingkah laku maupun keadaan kita, saat-saat pasangan kita cemburu, masa-masa sewaktu kita dan pasangan melewati waktu yang bagaikan dunia hanya milik berdua sedangkan yang lain ngontrak untuk nambahin biaya kita pacaran….
Pasti masa-masa seperti itu pernah pula anda rasakan baik bagi yang masih sendiri (lagi) seperti saya maupun yang sudah menikah dengan pasangan hidup yang anda pilih saat ini.

Hidup itu nikmat bukan?
Seperti macam rasa. Ada manis, asin, pahit, pedas, hambar, anyep, semriwing, dan rasa-rasa lain yang wah, mak nyus-lah pastinya. Begitu pula dengan kehidupan cinta seseorang, ada masa memiliki dan ada masa kehilangan.

Ketika salah satu teman meminta tolong untuk mengungkapkan perasaan saya pada saat kehilangan seseorang yang saya sayangi kedalam suatu tulisan, cukup membuat bingung apa yang harus saya tulis berhubung sudah lama sekali sejak terakhir kali saya putus dengan seseorang. Bisa dikatakan saya enggan untuk membuka kembali buku yang sudah saya kubur dalam-dalam. Buku-buku penuh gambaran garis luka yang bahkan anda pun mungkin enggan untuk menyentuhnya. Tetapi demi memenuhi janji dengan terpaksa saya menggali hati dan membayangkan kembali apa yang saya rasakan saat itu.

Apa yang anda rasakan ketika saat pertama anda memutuskan suatu hubungan dengan seseorang? Sedih, senang, lega, kaget, bingung, marah, hampa? Hal itupun telah pernah saya rasakan, bagaikan perasaan aneh dalam hati yang lebih ajaib daripada disaat kita memulai hubungan dengan seseorang.
Perasaan sedih karena kita harus berpisah dengan wanita yang selama ini telah menemani hari-hari anda dengan suka dan cita.
Perasaan senang karena akhirnya kita mendapat jalan untuk dapat berhubungan dengan wanita lain yang menurut kita “lebih” dari pasangan kita sebelumnya.
Perasaan lega setelah dapat melepaskan diri dari rasa terkekang yang selama ini dirasakan selama kita menjalani hubungan.
Perasaan kaget karena keputusan yang tidak disangka-sangka datang tanpa ada asal usulnya.
Perasaan bingung pada saat kita tidak mengetahui apa kesalahan yang telah diperbuat hingga pasangan kita memutuskan hubungan.
Perasaan marah ketika kita tidak dapat menerima kenyataan bawa kita sudah tidak bersama lagi.
Perasaan hampa disaat kita merasakan ada sebagian dari diri kita yang hilang ketika tidak bersama lagi.
Mungkin masih banyak lagi perasaan yang tidak bisa saya gambarkan dengan gamblang karena lebih banyak rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dunia dan hanya hati yang mengerti.

Kehilangan memang tidak selamanya indah, tetapi kehilangan bukan berarti akhir dari segalanya. Kata-kata yang selalu saya coba untuk pahami namun sangat sulit untuk dimengerti. Mengapa harus saya miliki apabila akhirnya harus saya lepaskan. Namun dengan dukungan teman yang baik dan keluarga yang mengerti biasanya kita bisa mengesampingkan pikiran-pikiran negatif seperti itu dan akhirnya kembali menjalani hidup seperti biasa.

Bagi sebagian orang, wanita terutama. Banyak anggapan bila pria lebih mudah menghapus perasaan dan melupakan hal-hal yang telah lampau. Memang mayoritas pria normal lebih mengutamakan rasional daripada hati dan itu kenyataan. Tetapi hal itu tidak selamanya benar. Pada saat-saat kami diantara teman atau dihadapan orang lain kami berusaha untuk mengesampingkan semua hal yang tidak seharusnya kami tampakkan, namun pada saat sendiri, menatap langit menunggu tidur ataupun dikala melamun mengumpulkan “nyawa” setelah bangun dari tidur, hal-hal sensitif yang selama ini kami tenggelamkan akan muncul kepermukaan. Bisa dikatakan itulah saat-saat pribadi kami, lebih pribadi dari saat me”nongkrong” di kamar mandi sambil merokok dan membaca koran, saat-saat kami menelaah segala hal yang kami sembunyikan dan memikirkan cara bagaimana untuk menyiasatinya.

Pria hanya salah satu dari dua gender ras manusia yang ada di muka bumi yang juga mempunyai perasaan. Kami pun bisa sakit hati dan kami pun mengenal rasa sensitif. Namun mungkin kami menganggap perasaan dari hati sebagai salah satu sumber energi dalam menjalani hidup dengan rasionalisasi otak sebagai pengatur energi tersebut. Tanpa hati, kamipun mati.